Hukum Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Begini Penjelasannya

Idul adha 1444 h
Petugas mencatat hewan qurban yang telah disembelih pada Hari Raya Idul Adha 1444H di Parkiran Cikaso, Jl. Madtasan, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Kamis 23 Juni 2023. (Aziz Pratomo/Halojabar.com)

HALOJABAR.COM- Berikut hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal. Sebentar lagi seluruh umat Islam bakal menyambut hari raya Idul Adha 1445 H. Di momen Idul Adha ini, seluruh umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan kurban.

Biasanya, terdapat beberapa jenis hewan yang sering dijadikan kurban oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Diantaranya adalah, domba, kambing, sapi dan kerbau.

Bagi umat Islam, berkurban sendiri memiliki banyak keutamaan. Diantaranya adalah memperoleh pahala, mendapat ridha Allah SWT dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.

Melansir dari laman NU Online, hukum berkurban adalah sunnah muakkad. Meski begitu, bagi Rasulullah hukum berkurban adalah wajib. Hal tersebut tercantum dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

أُمِرْتُ بِالنَّحْرِ وَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Artinya: “Aku diperintahkan untuk berkurban, dan itu adalah sunah bagi kalian.” (HR At-Tirmidzi).

وَالْاُضْحِيَة- ….(سُنَّةٌ) مُؤَكَّدَةٌ فِيحَقِّنَاعَلَى الْكِفَايَةِ إِنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنِ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ وَالْمُخَاطَبُ بِهَا الْمُسْلِمُ اَلْحُرُّ اَلْبَالِغُ اَلْعَاقِلُ اَلْمُسْتَطِيعُ

Artinya: “Dan berkurban… (adalah sunah) muakad yang mencukupi seluruh anggota keluarga jika ada lebih dari satu anggota dalam rumah tersebut. Jika salah seorang dari anggota rumah melaksanakannya, itu sudah cukup untuk semuanya. Jika tidak, maka itu adalah sunah individu. Orang yang diserukan untuk berkurban adalah Muslim yang merdeka, baligh, berakal, dan mampu.” (Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi asy-Syuja’, Bairut-Maktab al-Buhuts wa ad-Dirasat, tt, juz, 2, halaman: 588).

Namun, tidak sedikit orang yang masih bertanya apakah boleh berkurban untuk orang yang sudah meninggal? Berikut ulasan mengenai hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal.

Hukum Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Melansir dari situs NU Online, Imam Muhyidin Syarf an-Nawawi dalam Minhaj ath-Thalibin menyatakan jika berkurban untuk orang yang sudah meninggal tidak sah apabila semasa hidupnya sempat berwasiat.

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا “Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Minhaj ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1425 H/2005 M, h. 321)

Sementara itu, ada pandangan lain terkait hukum tersebut. Abu al-Hasan al Abbadi mengatakan jika berkurban untuk orang meninggal diperbolehkan. Sebab menurutnya kurban sendiri termasuk ke dalam sedekah. Sedangkan sedekah untuk orang yang sudah wafat adalah sah dan bisa memberikan kebaikan kepadanya.

لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

“Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama” (Lihat Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 8, h. 406)

Untuk kalangan yang berpegang kepada mazhab syafi’i, pandangan pertama dianggap lebih sahih. Oleh karena itu, mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafi’i menganut pandangan yang pertama.

Meski begitu, pandangan kedua didukung oleh para ulama dari kalangan mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali. Hal tersebut tercatat dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.

إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ. فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ. أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ

Artinya: “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum meninggalkan wasiat untuk berkurban, jika ahli waris atau orang lain mengurbani hewan kurban atas nama orang yang telah meninggal tersebut dari harta mereka sendiri, mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali mengizinkannya. Namun, menurut mazhab Maliki, hal ini boleh dilakukan tetapi dianggap makruh. Mereka berpendapat bahwa kematian tidak menghalangi seseorang yang telah meninggal untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui sedekah dan ibadah haji.” (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah, Bairut-Dar as-Salasil, juz, 5, halaman: 106-107).

Itulah tadi ulasan serta penjelasan mengenai hukum berkurban bagi orang yang sudah meninggal. Semoga bermanfaat.***

Follow dan baca artikel terbaru dan menarik lainnya dari HaloJabar di Google News