Imbas Sampah Menumpuk di Sungai Citarum, Jembatan Alfian ‘Terpaksa’ Dibuka

Jembatan Alfian Sampah Citarum
Jembatan Alfian atau Jembalas yang dibuka fleksibelnya ketika terjadi penumpukan sampah sehingga tidak bisa dilalui kendaraan untuk sementara waktu, mengingat jika tidak dibuka maka sampah bisa merusak kontruksi jembatan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

HALOJABAR.COM – Jembatan Alfian ‘terpaksa’ dibuka imbas menumpuknya sampah di aliran Sungai Citarum yang berada di wilayah Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berdampak kepada lingkungan di sekitarnya.

Salah satunya adalah terhadap Jembatan Alfian atau yang dulu dikenal dengan Jembatan Jembalas di Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, KBB, yang terpaksa harus dibuka agar sampah bisa mengalir.

“Jembatannya sengaja dibuka dulu fleksibelnya karena di sungai banyak sampah yang terbawa arus ke hilir. Jadi biar bisa lewat sampahnya,” kata Pengelola Jembatan Alfian, Gaston Barus, Sabtu 15 Juni 2024.

BACA JUGA: Pemkab KBB Usulkan Penyekatan di Sungai Citarum agar Sampah tak Mengalir ke Hilir

Sebelumnya beredar informasi di media sosial jika jembatan itu terputus di bagian tengahnya. Akibatnya jembatan yang menghubungkan Kecamatan Batujajar dengan Kecamatan Cihampelas itu tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua.

Gaston memastikan jika jembatan tersebut bukan terputus melainkan sengaja “dibuka” untuk memberikan ruang pada pulau sampah dan eceng gondok yang mengambang di badan sungai. Pemutusan konstruksi atau fleksibel jembatan sepanjang 50 meter itu sudah sering dilakukan.

Khususnya ketika setiap musim hujan tiba, maka pulau sampah dan eceng gondok akan terbentuk. Pasalnya banyak sampah rumah tangga ataupun sampah eceng gondok yang terbawa dari hulu dan mengalir ke hilir melalui wilayah Batujajar.

BACA JUGA: Petugas Gunakan Alat Berat untuk Percepat Penanganan Sampah di Aliran Sungai Citarum

“Setiap musim hujan pasti begini (dibuka) fleksibelnya, kalau tidak nantinya malah bisa membahayakan konstruksi jembatan akibat terdorong sampah,” terangnya.

Dia menyebutkan pemutusan fleksibel jembatan itu dilakukan tidak menentu, karena menyesuaikan pada kondisi arus sungai dan sampah yang mengambang. Jadi tidak dilakukan secara berkala, tapi melihat kondisi di lapangan. Meskipun umumnya dilakukan setiap musim penghujan.

Follow dan baca artikel terbaru dan menarik lainnya dari HaloJabar di Google News