Kronologi Meninggalnya Mahasiswa Unsil Tasikmalaya saat Mengikuti Diklatsar

Mahasiswa Unsil Tasikmalaya meninggal saat mengikuti diklatsar
Ilustrasi jenazah/ soumen82hazra/PIXABAY

HALOJABAR.COM- Berikut kronologi meninggalnya mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya saat mengikuti kegiatan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar).

Mahasiswa bernama Raffha Al Ayubi (20) meninggal dunia, saat mengikuti diklatsar UKM Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unsil, di Gunung Cakrabuana, Tasikmalaya, pada Sabtu 8 Juni 2024, kemarin.

Melansir dari laman detikjabar, kronologi meninggalnya mahasiswa teknik sipil Unsil ini bermula saat ia mengikuti kegiatan diklatsar UKM KSR PMI. Kegiatan tersebut dimulai sejak hari Jumat 7 Juni 2024, siang.

Pada hari tersebut, seluruh peserta termasuk korban diharuskan mengikuti karantina dan pemeriksaan sebelum menuju ke lokasi diklatsar, di Gunung Cakrabuana, Tasikmalaya. Setelah melakukan pemeriksaan, seluruh peserta pun menginap di kampus pada Jumat malam.

Wakil Rektor III Unsil Tasikmalaya, Asep Suryana Abdurrahmat menjelaskan bahwa dalam tahapan pemeriksaan kesehatan ini, melibatkan tim medis dari Puskesmas Tawang.

Dari 21 peserta, hanya satu orang yang tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sedangkan korban, dinyatakan sehat dan dapat mengikuti diklatsar, meski sebelumnya tim medis sempat memberikan catatan bahwa korban memiliki riwayat diabetes militus (DM).

“Total peserta 21 orang, malam sebelum kegiatan salah seorang tidak diizinkan karena dinyatakan kurang sehat. Jadi semua yang 20 itu ada keterangan sehat dari dokter, semuanya lengkap. Saya baca sendiri semua normal kondisi kesehatannya. Kalau korban memang ada catatan riwayat DM, mungkin karena kegemukan,” ujar Asep seperti dikutip dari detikjabar.

Baca Juga: Dua Mahasiswa Unpad Tewas Tersambar Petir saat Kemping di Buper Batu Kuda Bandung

Walaupun berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa adanya penyakit diabetes, Asep menjelaskan jika pihak keluarga tidak mengetahui jika korban memiliki riwayat penyakit tersebut.

“Tapi tadi saya komunikasi dengan keluarga tidak ada riwayat DM. Jadi mungkin hasil pemeriksaan di Puskesmas, yang bersangkutan ada riwayat DM,” ungkapnya.

Para peserta punb diberangkatkan pada Sabtu 8 Juni 2024, pagi, usai menjalani karantina, pembekalan dan pemeriksaan kesehatan. Seluruh peserta berangkan menuju Alun-Alun Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, dengan menggunakan mobil.

Pada kegiatan ini, para peserta akan mendaki Gunung Cakrabuana dari wilayah Malangbong dan turun di wilayah Pagerageung Tasikmalaya. Sekitar pukul 09.00 WIB pagi, seluruh peserta mulai melakukan pendakian ke Gunung Cakrabuana.

Lalu, sekitar pukul 14.00 WIB, korban mengeluhkan keram dibagian kakinya akibat kelelahan, saat ditengah rute pendakian. Melihat kondisi tersebut, korban pun kemudiaan diistirahatkan dan diberi balsem sebagai penanganan.

“Menurut keterangan panitia, yang bersangkutan merasakan kelelahan sekitar jam 2 siang. Diistirahatkan karena kram kaki. Nah maksud diistirahatkan dikasih minum dan diberi balsam di kaki, supaya sehat lagi,” terang Asep.

Setelah 15 menit istirahat, korban pun kembali melanjutkan perjalanan pendakian. Setelah beberapa ratus meter, korban kembali mengalami keram, dan meminta untuk istirahat lagi.

Pada kejadian kedua ini, kondisi korban semakin parah. Pasalnya, korban mengalami gejala hilang kesadaran. Alhasil korban pun dinyatakan tidak bisa melanjutkan pendakian.

Baca Juga: Nahas, Mahasiswa Unsri Tewas Usai Aborsi Hingga Alami Pendarahan Hebat

Namun, pada saat kejadian korban berada di tengah jalur pendakian. Melihat kondisi tersebut, korban pun harus menunggu bantuan dari tim SAR. Panitia pun mulai meminta bantuan kepada tim SAR, Tagan dan BPBD untuk melakukan evakuasi.

“Makin sore kondisinya makin memburuk, ditanya kadang nyambung kadang enggak. Mulai gejala begitu, akhirnya diputuskan tak mungkin dibawa ke atas. Tapi mau diturunkan ke bawah, rute sudah jauh. Akhirnya diputuskanlah menunggu tim SAR itu,” paparnya.

Tim SAR pun baru menuju jalur untuk mengevakuasi korban sekitar pukul 20.30 WIB. Kondisi korban pun semakin memburuk saat menunggu tim SAR. Melihat kondisi tersebut, panitia serta teman korban pun berusaha keras untuk menyelamatkan korban.

“Sambil menunggu tim evakuasi, korban diinstruksikan untuk dibungkus tubuhnya dengan aluminium foil untuk menjaga suhu tubuhnya agar tidak turun, termasuk juga dibuat perapian di dekat tubuh korban,” tambahnya.

Tim SAR baru tiba di lokasi sekitar pukul 23.00 WIB. Tim SAR pun langsung melakukan evakuasi korban. Namun karena kondisi medan yang terjal, menyulitkan proses evakuasi. Alhasil korban baru tiba di bawah gunung, sekitar pukul 05.30 WIB.

“Mulai evakuasi 20.30 WIB, perjalanan hampir 2 jam, sampai sekitar jam 23.00 WIB. Setelah itu turun, dari jam 23.00 WIB sampai setengah 6 pagi tiba di pinggir jalan. Itu pun setelah mendekati Subuh tim evakuasi kelelahan, beruntung sudah dekat permukiman warga sehingga dibantu,” kata Asep.

Sesampainya di bawah gunung, korban pun langsung dilarikan ke RSUD dr Soekardjo. Namun sayangnya nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.***

Follow dan baca artikel terbaru dan menarik lainnya dari HaloJabar di Google News