Vaksin Covid-19 Sinovac Didaftrakan Sertifikat Halal ke LPOM MUI

  • Whatsapp
Vaksin Covid-19
GEdung Bio Farma Bandung/dok bio farma

HALOJABAR – Vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech, China, yang sedang uji klinis di Bandung akan didaftarkan sertifikasi halal ke Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau (LPPOM MUI).

Hal itu disampaikan Manajer Riset dan Pengembangan PT Bio Farma, Dr Neni Nurainy dalam webinar yang digelar PBNU, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

“Untuk vaksin Covid-19 sudah daftar ke LPOM MUI, jadi masalah kehalalan merupakan juga salah satu perhatian sangat besar bagi Bio Farma,” kata Dr Neni Nurainy.

Untuk diketahui. uji klinis Covid-19 Sinovac dilakukan BUMN produsen vaksin PT Bio Farma bersama peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).

Neni mengatakan, Bio Farma ini perusahaan produsen vaksin satu-satunya di Indonesia yang sudah berdiri sejak 130 tahun lalu, yakni zama Belanda. Jadi Bio Farma bukan produsen vaksin kemarin sore.

“Kita BUMN, dan produknya sudah digunakan dan diekspor ke 150 negara termasuk 157 negara Organisasi Konferensi Islam (OKI),” ungkapnya.

OKI merupakan negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka mau memakai berbagai jenis vaksin buatan Bio Farma karena kualitas dan kehalalannya.

Menurutnya, sudah lama Bio Farma menerapkan sistem jaminan halal. “Kita sudah mendapat sistem halal dari MUI, beberapa produk kita sudah dapat sertifikat halal,” katanya.

Selain itu, lanjut Neni, Bio Farma juga sudah memenuhi standar WHO. Sehingga keamanan dan kemanjuran vaksin buatan Bio Farma sudah tidak diragukan lagi.

Begitu juga dengan vaksin Sinovac yang kini sedang uji klinis fase 3. Karena itu ia berharap masyarakat tidak meragukan vaksin Sinovac. “Ini diharapkan masyarkat itu diharapkan tidak ragu vaksinnya karena diproduksi oleh produsen yang sudah punya reputasi di dunia internasional,” katanya.

Sekarang vaksin Sinovac masuk uji klinis fase 3. Rencananya Bio Farma mengajukan emergency use authorization (EUA) ke BPOM pada Januari 2021. Dengan mendapat EUA, vaksin tersebut akan bisa dipakai vaksinasi massal.

Ada 1.620 relawan yang telah mendapatkan suntikan 1 dan 2. Perlu diketahui, uji klinis ini melakukan dua kali penyuntikan vaksin. Semua relawan sudah disuntik baik suntikan 1 maupun 2.

“Sekarang sudah pada periode monitoring sekitar 1.500-an progres sesuai target bahkan melebhi target kita dari segi waktu,” katanya. (han)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *